Mengemudi Saat Puasa, Perhatikan Waktu Kritis

Monday, 29 May 2017

Ketika memasuki bulan puasa yang dilakukan selama satu bulan penuh, tentu dapat menyebabkan perubahan pola hidup seseorang terhadap jadwal makan dan istirahat. Makanya, jika kita tidak pandai mengatur kembali pola hidup, tentu akan berpengaruh terhadap kegiatan mengemudi. Seperti kurangnya konsentrasi yang dapat berisiko terjadinya kecelakaan. 

Bagi para pengemudi, sebaiknya pahami perubahan jam biologis selama bulan puasa. Waspada terhadap dua titik kritis mengemudi ketika berpuasa, yakni saat pagi hari dan menjelang buka puasa. 

Belum lagi ditambah bangun sebelum subuh untuk makan sahur. Kondisi tersebut berdampak pada tingkat konsentrasi yang rendah hingga 7 hari pertama puasa. Meski pola hidup berubah, terpenting pastikan tubuh tetap memenuhi kebutuhan tidur atau istirahat sekitar 6-8 jam.

Tak hanya mengemudi pagi hari butuh konsentrasi. Tantangan terberat lainnya, justru saat menjelang buka puasa. Karena umumnya kebanyakan pengemudi ingin cepat sampai tujuan, sehingga membawa kendaraan secara agresif. 

Sangat berbahaya ketika pengemudi agressive driving, bisa merugikan diri sendiri dan pengguna jalan lain tentunya. Nah, berikut perilaku mengemudi selama bulan puasa ini.

 

Pagi Hari & Menjelang Buka
Untuk menyiasati kondisi fisik yang prima, maka dibutuhkan pilihan komposisi makanan saat sahur. Perhatikan asupan makanan sahur yang berimbang agar glukosa dan zat besi terpenuhi. Glukosa berfungsi sebagai energi, sementara zat besi untuk mengikat unsur oksigen dalam darah. Jika kedua hal ini terpenuhi dengan baik, maka konsentrasi mengemudi pun bisa lebih terjaga.

Untuk pagi hari, sebaiknya setelah sahur jangan tidur. Justru waktu terbaik ini bisa Anda lakukan pemeriksaan kendaraan secara bertahap. Misal hari pertama mengecek kondisi ban, keesokan harinya cek lampu, dan seterusnya. Hal tersebut agar kondisi kendaraan tetap prima selama perjalanan. Berangkat lebih awal juga bisa menghindari kemacetan yang dapat mengurangi kondisi fisik selama perjalanan. 

Titik kritis selanjutnya yakni mengemudi saat menjelang buka puasa. Hal yang paling ditunggu ketika sedang berpuasa adalah saat waktu berbuka puasa. Sayangnya, jika menjelang waktu buka puasa, kita masih berjibaku dengan kemacetan lalu-lintas. Ya, hati-hati dalam waktu ini. Pasalnya, banyak pengemudi lain yang mengemudi secara agresif karena ingin menyempatkan diri kembali ke rumah untuk berbuka bersama keluarga.

Jika memang harus menempuh jalur yang padat, sebisa mungkin Anda mempersiapkan makanan dan minuman darurat untuk buka puasa. Pilih makanan ringan seperti roti, kue atau biskuit. Sedangkan minuman, bisa Anda siapkan minuman air mineral untuk membatalkan puasa. 

Yang perlu dicermati adalah jangan makan atau minum saat Anda mengemudi. Kedua hal tersebut bisa mengurangi konsentrasi Anda. Lebih baik mobil ditepikan dahulu sebelum makan dan minum untuk membatalkan puasa.


Kontrol Emosi
Dalam ritual puasa, menahan hawa nafsu termasuk dalam ibadah puasa. Artinya, kita tidak boleh mudah emosi dalam kondisi apapun. Hal tersebut berlaku juga dalam mengemudi. Kondisi lalu-lintas dengan kemacetan luar biasa, ditambah perilaku pengemudi lain yang ugal-ugalan tentu menjadi pemicu emosi.

Salah satu antisipasinya adalah selain berfikir positif dan kita ingat bahwa kita sedang berpuasa dan menahan hawa nafsu amarah. Berpuasa memang ajang untuk melatih kesabaran. Jangan sampai terpancing emosi, karena ketidak-mampuan kita dalam mengendalikan emosi, berakibat pelanggaran dalam berlalu-lintas dan risiko terlibat dalam kecelakaan semakin besar. Ingat, bukan hanya diri kita sendiri yang rugi, kurangnya kontrol emosi akan berimbas merugikan pengguna jalan lain.

Antisipasi lainnya, Anda bisa mengatur kembali pola perjalanan. Misalnya, berangkat lebih awal atau pulang lebih sore. Hindari jam sibuk agar tidak berjumpa dengan kemacetan yang dapat memicu emosi.